Hay friends, Dengerin lagu yuks
Hehehehe ..
Hay friends, I Santa Mars
Nama asli ane Marsyanta
Welcome to my blog
I am Indonesian people
aye Ingin sekali jadi orang terkenal :D
Hopefully all useful
Thank you .




Rabu, 26 Februari 2014

Manajemen Pengendalian Hama Penyakit Kelapa Sawit (TM)

Manajemen Pengendalian Hama Penyakit Kelapa Sawit (TM)

Pengendalian hama dan penyakit merupakan aspek penting dalam pemeliharaan tanaman kelapa sawit. Pengendalian HPT harus dilakukan sebijak mungkin dengan menerapkan konsep pengendalian hama terpadu (HPT), dimana kegiatan pengendalian memperhatikan ambang ekonomi dari populasi hama.

Berkaitan dengan penyusunan rencana kegiatan pengendalian hama dan penyakit tanaman kelapa sawit menghasilkan (TM), beberapa kegiatan yang perlu diketahui adalah:
Kegiatan pengamatan harian di kebun
  • Analisa data hasil pengamatan
  • Identifikasi penyebab penyakit dan organisme hama
  • Kebutuhan bahan
  • Kebutuhan peralatan
  • Lokasi operasi pengendalian
  • Jadwal operasi pengendalian
1. Hama Kelapa Sawit Pada TM

Beberapa hama kelapa sawit periode TM adalah sebagai berikut:

a. Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) 
UPDKS antara lain ulat apiulat kantong (Mahasena corbetti), ulat bulu merupakan hama utama yang dapat menurunkan produksi 30- 40 % dalam 2 tahun setelah kehilangan daun sebanyak 50 %. Hama ini biasanya menyerang atau memakan daun dimulai dari daun bagian bawah. Daun-dauan yang terserang biasanya berlubang atau sobek hingga tinggal tulang-tulang daunnya, pada serangan hebat daun akan habis sama sekali. Pengendalian UPDKS dilaksanakan dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) yaitu berdasarkan monitoring populasi kritis, mengutamakan pelestarian, dan pemanfaatan musuh alami.

b. Hama tikus (Rattus tiomanicus, Rattus sp) 

Jenis tikus yang sering ditemukan di areal kebun kelapa sawit adalah tikus belukar (Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattus rattus argentiventer), tikus rumah (Rattus rattus diardii) dan tikus huma (Rattus exulans). Dari keempat jenis tikus di atas, tikus  belukar merupakan dominan di perkebunan kelapa sawit.

Perlukaan buah akibat keratan tikus dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas minyak kelapa sawit. Hama tikus ini pada umumnya agak sulit untuk diberantas, karena tempat hidupnya luas dan sering berpindah-pindah. Pengendalian hama tikus dapat dilakukan dengan cara antara lain:
  • secara mekanis yakni dengan cara merusak sarangnya dan pengasapan/ emposan serta membunuhnya pada saat hama tikus keluar dari sarangnya.
  • secara biologis yakni menggunakan masuh alami atau predator seperti burung hantu, kucing, ular.
c. Kumbang penggerek pucuk kelapa sawit 
Kumbang penggerek pucuk merupakan hama yang menimbulkan masalah pada seluruh perkebunan kelapa sawit di Indonesia yaitu dari Oryctes rhinoceros. Jarang sekali dijumpai menyerang kelapa sawit yang sudah menghasilkan (TM). Namun demikian dengan dilakukannya pemberian mulsa tandan kosong kelapa sawit (TKS) yang lebih dari satu lapis, maka masalah hama ini sekarang juga dijumpai pada areal TM.
Tindakan pemberantasan yang dapat dilakukan :
  1. pengumpulan kumbang secara manual dari lubang gerekan pada kelapa sawit, dengan menggunakan alat kail dari kawat. Tindakan ini dilakukan tiap bulan apabila populasi kumbang 3-5 ekor/ha, setiap dua minggu jika populasi kumbang 5-10 ekor/ha, dan setiap minggu jika populasi kumbang lebih dari 10 ekor.
  2. penghancuran tempat peletakkan telur secara manual dan dilanjutkan dengan pengumpulan larva untuk dibunuh, apabila jumlahnya masih terbatas.
  3. pemberantasan secara kimiawi menaburkan insektisida butiran karbosulfan sebanyak (0.05-0.10 g bahan aktif per pohon, setiap 1-2 minggu) atau 3 butir kapur barus/pohon, setiap1-2 kali/bulan pada pucuk kelapa sawit.
  4. larva O.rhinoceros pada mulsa TKS di areal TM dapat dikendalikan dengan menaburkan biakan murni jamur Metarrhizium anisopliae sebanyak 20 g/m2. Pemerangkapan kumbang O. rhinoceros dengan menggunakan ferotrap.   

d. Penggerek tandan buah kelapa sawit 
Hama penggerek tandan buah disebabkan Tirathaba mundella dan Tirathaba rufivena yang menyerang perkebunan kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Hama ini terutama menyerang pada areal perkebunan sawit yang banyak dijumpai tandan buah dengan fruitset rendah atau terlewat di panen. Hama penggerek tandan buah biasanya mulai dijumpai pada saat kelapa sawit telah mengeluarkan bunga. Pembentukan bunga secara berkesinambungan merupakan salah satu faktor pendorong perkembangan populasi hama tersebut.
Kerugian yang diakibatkan oleh hama penggerek tandan buah yaitu bunga dan buah yang baru terbentuk yang terserang akan rontok. Buah muda dan buah matang biasanya digerek bagian luar sehingga buah sampai dipanen tampak cacat dan kusam.
Pengendalian hama penggerek tandan buah yaitu melalui monitoring populasi dengan mengamati jumlah dan intensitas serangan pada tandan buah kelapa sawit, pohon per pohon, dilakukan setiap sebulan sekali. Pengamatan pada pohon yang tinggi, dianjurkan menggunakan teropong.
Upaya prefentif dapat dilakukan dengan segera memotong tandan buah yang terserang hama, sehingga menekan populasi hama dan tidak memicu timbulnya penyakit busuk buah. Sedangkan pengendalian hama penggerek tandan buah kelapa sawit dengan tindakan terakhir yaitu menggunakan insektisida Thuricide, Dimilin, dan Baythroid.

2. Penyakit Kelapa Sawit Pada TM 

Di antara penyakit dominan pada kelapa sawit periode TM adalah penyakit busuk tandan buah. Penyebab penyakit busuk tandan buah kelapa sawit disebabkan oleh Marasmius palmivorus, biasanya menginfeksi pada periode transisi dari TBM ke periode TM, hingga pohon berumur 10 tahun. Tandan buah yang terserang Marasmius
palmivorus menjadi busuk sebagian atau seluruhnya sehingga dapat menimbulkan kerugian.

Gejala Serangan
  • Penyakit ini awalnya berkembang pada ujung tandan buah segar (TBS), yakni pada bagian buah yang terjepit/tergencet antara batang dan pelepah daun diatasnya. Jaringan miselium berwarna putih akan berkembang pada permukaan kulit buah.
  • Selanjutnya penyakit ini masuk kedalam jaringan kulit buah dan menghasilkan jaringan busuk bewarna coklat muda dan basah.
  • Sprora berwarna putih maupun kemerahan akan dihasilkan apabila seruluh buah telah terinfeksi / terserang.
  • Kerusakan buah ini akan menyebabkan kandungan asam lemak bebas menjadi tinggi pada minyak kelapa sawit yang dihasilkan.
  • Penyakit ini lebih banyak dijumpai pada saat musim basah/ hujan yang panjang khususnya pada lahan yang umumnya tanah sulfat asam.
  • Penyakit ini sering terjadi pada permulaan pada panen, karena polinasi tidak terjadi sempurna.
Pencegahan dan Pengendaliannya
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menncegah dan mengendalikan penyakit tersebut sebagai berikut:
  • Melakukan sanitasi /pembersihan kebun dari sisa-sisa bagian tanaman yang menjadi sumber inokulum terutama pada musim hujan.
  • Pengendalian secara mekanis yakni dengan cara mengumpulkan dan membakar tandan buah yang terserang.
  • Pengendalian secara kimiawi yakni dengan menggunakan fungisida yang selektif sehingga tidak mematikan serangga atau kumbang yang membantu dalam penyerbukan. Fungisida yang biasa digunakan adalah Difolatan 0,2 – 07,%, dengan interval 2 minggu sekali.

0 komentar: